Articles by "Teknologi"

Cara menghasilkan uang dollar dari safelinku money, situs shortlink terbaik dan termahal

Sefelinku juga merupakan website yang menyedikan imbalan berupa uang dollar jika salah satu link yang dishare diklik oleh visitor, mungkin kamu kenal dengan situs adfly ketika sedang mendownload file lewat web atau blog. Safelinku juga hampil seperti itu dengan banyak visitor melewati link maka penghasilan yang didapatkan juga akan bertambah.

Tapi disini saya tidak akan membahas tentang adfly, saya akan membahas bagaimana menghasilkan uang dengan safelinku.

Safelinku merupakan layanan url shortener Indonesia, dimana user bisa memperpendekan dan membagikan link urlnya untuk memperoleh dollar. Kelebihan safelinku yaitu payout rates nya sangat tinggi, di negara Indonesia CPM nya adalah $3.13 atau sekitar Rp.50.000 dan yang terbesar dari negara Jerman dengan CPM $8.20.

Untuk bisa mencairkannya, tabungan kamu harus terkumpul minimal $5 dan pembayaran bisa melalui pulsa, bank ataupun dari rekening online seperti paypal. Untuk proses payment nya sangat cepat dalam 1x24jam uang sudah ada disaku kamu. Soal registrasi juga tidak ribet, tidak ada syarat khusus untuk bisa bergabung dengan safelinku login yang terpenting mempunyai blog untuk dipersingkat.

Sama dengan web shortener url lainnya, safelinku juga menyediakan fitur "Refferal Program", dimana kamu harus mengajak orang untuk menjadi member dengan kode reff kamu. Jika kamu berhasil, maka kamu akan dijanjikan memperoleh komisis sebesar 10% dari pendapatan orang yang kamu undang.

Cara Mudah Daftar Safelinku

1. Pertama kamu masuk terlebih dahulu ke situs resmi safelinku.com.

2. Disana, kamu akan melihat homepage dari shortlink Indonesia, tinggal klik saja tombol "Register".

3. Selanjutnya kamu akan diarahkan ke menu form registrasi dan isi dengan benar setiap kolomnya, jika bingung kamu bisa baca panduannya dibawah ini.

  • First Name > Isi dengan nama depan
  • Last Nama > Isi dengan nama belakang
  • Your website 1 > Isi dengan alamat website kamu atau boleh dikosongkan
  • Your Website 2 > Sama dengan nomor 1
  • Country > Isi dengan Indonesia
  • Username > Isi dengan nama pengguna (ingat username kamu kerana digunakan ketika sign in ke akun SafelinkU.com yang kamu buat)
  • Email > Isi dengan email aktif
  • Password > Buat kata sandi
  • Re-enter Password > Isi kembali dengan kata sandi yang sama
  • Contact Info > Isi dengan url FB atau email aktif yang kamu punya
  • Payout info > Pilih salah satu metode pembayaran yang akan kamu gunakan
  • Payout account > Masukan info/data dari metode pembayaran yang kamu pilih, semisal masukan akun paypal jika menggunakan paypal sebagai metode pembayaran yang kamu pilih
  • Terakhir klik "SUBMIT" untuk mengakhiri pendaftaran.

Itulah cara membuat akun safelinku, jika sudah berhasil menjadi publisher di safelinku.com dan tentunya sudah bisa memperpendek url konten kamu untuk mendapatkan uang dari situs web ini.

Semoga bermanfaat Salam Teknologi.

Android developers know that dex compilation is a key step in building an APK. This is the process of transforming .class bytecode into .dex bytecode for the Android Runtime (or Dalvik, for older versions of Android). The dex compiler mostly works under the hood in your day-to-day app development, but it directly impacts your app's build time, .dex file size, and runtime performance. 

That's why we are investing in making important improvements in the dex compiler. We're excited to announce that the next-generation dex compiler, D8, is now available for preview as part of Android Studio 3.0 Beta release

When comparing with the current DX compiler, D8 compiles faster and outputs smaller .dex files, while having the same or better app runtime performance. 


* Tested with benchmark project here
 

*Tested with benchmark project here

How to try it?

D8 is available for your preview starting with Android Studio 3.0 Beta. To try it, set the following in your project's gradle.properties file: android.enableD8=true

We have tested D8's correctness and performance on a number of apps, and the results are encouraging. We're confident enough with the results that we are switching to use D8 as the default dex compiler for building AOSP. Please give D8 a try and we would love to hear your feedback. You can file a bug report using this link.

What's next?

We plan to preview D8 over the next several months with the Android Studio 3.0 release. During this time, we will focus on addressing any critical bug reports we receive from the community. We plan to bring D8 out of preview and enable it as the default dex compiler in Android Studio 3.1. At that time, the DX compiler will officially be put in maintenance mode. Only critical issues with DX will be fixed moving forward. 

Beyond D8, we are also working on R8, which is a Proguard replacement for whole program minification and optimization. While the R8 project has already been open sourced, it has not yet been integrated with the Android Gradle plugin. We will provide more details about R8 in the near future when we are ready to preview it with the community.

Tool developers: get your bytecode tools Java 8 ready

In April, we announced Java 8 language features with desugaring. The desugaring step currently happens immediately after Java compilation (javac) and before any bytecode reading or rewriting tools are run. Over the next couple of months, the desugar step will move to a later stage in the pipeline, as part of D8. This will allow us to further reduce the overall build time and produce more optimized code. This change means that any bytecode reading or rewriting tools will run before the desugar step. If you develop .class bytecode reading or rewriting tools for Android, you will need to make sure they can handle the Java 8 bytecode format so they can continue to work properly when we move desugaring into D8.

Posted by James Lau, Product Manager | Android Developers

D8 now default dex compiler

Faster, smarter app compilation is always a goal for the Android tools teams. That's why we previously announced D8, a next-generation dex compiler. D8 runs faster and produces smaller .dex files with equivalent or better runtime performance when compared to the historic compiler - DX. We recently announced that D8 has become the default compiler in Android Studio 3.1. If you haven't previously tried D8, we hope that you notice better, faster dex compilation as you make the switch.


D8 was first shipped in Android Studio 3.0 as an opt-in feature. In addition to our own rigorous testing, we've now seen it perform well in a wide variety of apps. As a result, we're confident that D8 will work well for everyone who starts using it in 3.1. However, if you do have issues, you can always revert to DX for now via this setting in your project's gradle.properties file: android.enableD8=false

Next Steps
Our goal is to ensure that everyone has access to a fast, correct dex compiler. So to avoid risking regressions for any of our users, we'll be deprecating DX in three phases

The first phase is intended to prevent prematurely deprecating DX. During this phase, DX will remain available in studio. We'll fix critical issues in it, but there won't be new features. This phase will last for at least six months, during which we'll evaluate any open D8 bugs to decide if there are regressions which would prevent some users from replacing DX with D8. The first phase won't end until the team addresses all migration blockers. We'll be paying extra attention to the bug tracker during this window, so If you encounter any of these regressions, please file an issue

Once we've seen a six month window without major regressions from DX to D8, we'll enter the second phase. This phase will last for a year, and is intended to ensure that even complex projects have lots of time to migrate. During this phase, we'll keep DX available, but we'll treat it as fully deprecated; we won't be fixing any issues. During the third and final phase, DX will be removed from Android Studio. At this point, you'll need to use a legacy version of the Android Gradle Plugin in order to continue to build with DX. 

Posted by Jeffrey van Gogh, Software Engineering Manager | Android Developers

Untuk dapat mensetting BIOS kita memulai dengan menekan tombol keyboard untk masuk ke BIOS. Dalam hal ini masing masing mainboard berlainan ada yang menekan tombol del, f1, f2 dan lain-lain. Setelah masuk maka akan menjadi tampilan berikut (masing-masing mainboard berlainan untuk tampilan, bahasa dan  perintah). Tampilan menu awal dari tampilan BIOS : terdapat keterangan tentang harddisk dan CD room yang aktif kemudian setting untuk floppy A dan peringatan kerusakan yang terjadi pada mainboard.

Sebuah perusahaan desain yang berbasis di Paris, Perancis sedang mengembangkan sebuah alat berbentuk gelang,dengan maraknya smartwatch yang di populerkan merk-merk smartphone ternama. Tidak mau kalah dengan inovasi yang ada, gelang kecil ini bernama ‘cicret’ gelang yang memproyeksikan layar smartphone kita langsung ke pergelangan tangan sebagai medianya. Kebayangkan kerennya seperti di film-film fiksi.

Udah pada nunggu toh, Blackberry Messenger (BBM), yang nama aplikasinya adalah Fixmo Web Messenger. Kalian bisa Langsung BBM an di PC/Laptop, sehingga akan membuat Anda lebih mudah dan cepat membalas setiap pesan di BBM lewat PC/Laptop. Awalnya sih saya tau aplikasi ini iseng-iseng aja di pc sodara. Akhirnya lama-lama ketagihan juga, walaupun maininya harus nungu berbulan-bulan ke rumah sodara.

Blackberry to PC

Saat ini komputer bukan lagi merupakan barang mewah, alat ini sudah digunakan di berbagai bidang pekerjaan seperti halnya pada bidang pendidikan. Pada awalnya komputer dimanfaatkan di sekolah sebagai penunjang kelancaran pekerjaan bidang administrasi dengan memanfaatkan software Microsoft word, excel dan access.

Dengan masuknya materi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kurikulum baru, maka peranan komputer sebagai salah satu komponen utama dalam TIK mempunyai posisi yang sangat penting sebagai salah satu media pembelajaran. Kutipan dari Kurikulum untuk Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.

·  Visi mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yaitu agar siswa dapat dan terbiasa menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi secara tepat dan optimal untuk mendapatkan dan memproses informasi dalam kegiatan belajar, bekerja, dan aktifitas lainnya sehingga siswa mampu berkreasi, mengembangkan sikap imaginatif, mengembangkan kemampuan eksplorasi mandiri, dan mudah beradaptasi dengan perkembangan baru di lingkungannya · Melalui mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi diharapkan siswa dapat terlibat pada perubahan pesat dalam kehidupan yang mengalami penambahan dan perubahan dalam penggunaan beragam produk teknologi informasi dan komunikasi.

qimonda_ddr3-memoryMeski Qimonda minggu lalu dikabarkan mengalami kebangkrutan, akan tetapi sampai keputusan akhir mereka masih berkonsentrasi terhadap struktur masa depan perusahaan tersebut. Produsen DRAM dari Jerman ini berusaha untuk meneruskan bisnis mereka seperti biasanya.
Minggu ini mereka mencoba untuk kembali memperkenalkan produk baru mereka, modul memori DDR3 2GB terkecil didunia. DRAM ini berbasis teknologi Buried Worldline 46nm, yang dikembangkan oleh Qimonda.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget